Kata Menkes Soal Temuan Dua Kasus Super Flu di Bali

1 hour ago 3

MENTERI Kesehatan atau Menkes Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat tidak panik atas temuan dua kasus influenza A (H3N2) subclade K atau super flu di Bali. Budi mengatakan super flu merupakan penyakit influenza biasa dengan tingkat fatalitas yang sangat rendah.

“Flu ini kan rutin terjadi karena memang sudah selalu terjadi. Tapi buat teman-teman bisa lebih tenang ini fatality rate nya rendah sekali,” kata Budi saat ditemui di Gedung Kementerian Kesehatan di Jakarta pada Kamis malam, 15 Januari 2026. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Adapun dua kasus super flu yang ditemukan di Bali sebetulnya terpapar virus sejak Oktober 2025. Dua penyintas dengan rentang usia 40 sampai 50 tahun itu mengalami demam dan sesak nafas. Tim surveilans Dinkes Bali lalu mengirimkan sampel cairan di saluran pernafasan ke laboratorium Kementerian Kesehatan. 

Namun, hasil uji laboratorium baru terbit pada pertengahan Januari 2026. Dua penyintas sempat dirawat di rumah sakit selama beberapa hari sebelum akhirnya dinyatakan sembuh pada akhir 2025. 

Menurut Budi, kasus super flu seperti yang dialami dua warga di Bali merupakan fenomena influenza yang berulang setiap tahun. Terutama ketika daya tahan tubuh menurun atau terjadi perubahan cuaca yang ekstrem. "Jadi normal seperti flu biasa, kita jaga kesehatan kita supaya imun sistem kita bisa melawan penyakit," ujarnya.

Pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang dilakukan Kementerian Kesehatan pada 25 Desember 2025 menunjukkan bahwa virus subclade K di Indonesia telah terdeteksi sejak Agustus tahun lalu. Hingga akhir Desember, Kemenkes mencatat terdapat 62 kasus super flu di Indonesia. Kasus itu tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. 

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Tjandra Yoga Aditama meminta pemerintah melaporkan hasil pemantauan terhadap penyebaran penyakit influenza secara berkala. Menurut dia, meski diklaim tidak memiliki risiko kematian yang tinggi, namun beberapa negara di dunia menanggapi fenomena ini dengan serius. 

Di Cina, misalnya, terdapat lembaga Center of Diseases Control (CDC) yang setiap hari mengabarkan perkembangan situasi influenza di negara tirai bambu tersebut. Pada 14 Januari 2026, kata Tjandra, CDC melaporkan tingkat kepositifan atau positivity rate kluster Influenza di sekolah mencapai 27,4 persen. 

Otoritas kesehatan Taiwan juga melakukan hal serupa. Pimpinan Epidemic Intelligence Center–badan khusus Taiwan yang bertugas memantau penyakit menular–melaporkan bahwa terdapat 91.842 pasien dengan flu sepanjang 4-10 Januari. Angka ini naik 9,6 persen dari pekan sebelumnya.

Di Taiwan, Tjandra mengatakan ada 3 kematian akibat influenza selama periode 6-12 Januari. “Akan baik kalau kita di Indonesia juga punya data mingguan yang disampaikan ke publik, sehingga masyarakat  mendapat informasi yang jelas dan tepat,” kata Tjandra melalui keterangan tertulis pada Kamis, 15 Januari 2026. 

Read Entire Article