Diperbarui 06 Januari 2126 11:38 WIB
Manohara - Credit: instagram.com/manodelia
Kapanlagi.com - Manohara Odelia Pinot secara tegas menolak lagi sebutan mantan istri Pangeran Kelantan. Penolakan ini berakar dari pengalaman pahit selama pernikahannya yang menyisakan trauma mendalam.
Manohara mengunggah postingan berupa surat terbuka untuk media di Indonesia dan platform digital pada Senin, 5 Januari 2025. Isi surat terbuka tersebut menjelaskan bila Manohara tak mau lagi disebut sebagai mantan istri Pangeran Kelantan. Alasan utamanya adalah Manohara masih di bawah umur saat pernikahan itu terjadi. Selain itu, pernikahan itu disebut Manohara terjadi karena adanya paksaan, bukan hubungan konsensual.
Dalam postingan tersebut, Manohara juga menyebut stop menyebut dirinya sebagai 'mantan istri Pangeran Kelantan' juga berlaku untuk sejumlah platform seperti Wikipedia, Google, dan semua jurnalis serta penulis di media digital.
Seperti diketahui, pernikahan dengan Tengku Muhammad Fakhry Petra pada tahun 2008 berakhir tragis setahun kemudian. Ia mengalami serangkaian dugaan kekerasan dan perlakuan tidak manusiawi yang menggemparkan publik.
Baca juga berita lainnya di Liputan6.com
1. Awal Mula Kisah Manohara dan Pangeran Kelantan
Manohara Odelia Pinot bertemu Tengku Fakhry pada Desember 2006, kemudian menikah pada 26 Agustus 2008 saat usianya masih 16 tahun. Pernikahan ini menjadi sorotan publik, bahkan sempat memicu sentimen antara Indonesia dan Malaysia.
2. Pengakuan Manohara tentang Kekerasan Fisik
Manohara dan ibunya, Daisy Fajarina, secara terbuka mengungkapkan adanya kekerasan fisik yang dialami Manohara selama tinggal di Kelantan. Ia mengaku disiksa oleh suaminya, bahkan terdapat beberapa luka di tubuhnya.
- Bekas sundutan rokok ditemukan di tubuh Manohara.
- Luka sayatan juga dilaporkan ada di beberapa bagian tubuhnya, terutama di dada.
3. Pernikahan yang Diduga Dipaksakan di Usia Belia
Manohara terpaksa menikah di usia 16 tahun, dilaporkan tanpa wali nikah dan surat resmi dari Kedutaan Besar Indonesia. Pernikahan ini disebut-sebut untuk menyelamatkan martabat sang pangeran setelah insiden tertentu.
4. Hidup Terisolasi dan Pembatasan Komunikasi
Selama di Kelantan, Manohara merasa tidak bahagia dan diisolasi dari dunia luar. Ia ditempatkan di sebuah ruangan yang disebutnya sebagai gudang, tanpa telepon, dan tidak diizinkan berkomunikasi dengan keluarganya di Indonesia.
5. Stigma 'Istri Durhaka' dari Pengadilan Malaysia
Setelah Manohara berhasil kembali ke Indonesia, Pengadilan Tinggi Syariah Kota Baharu, Malaysia, memerintahkan Manohara untuk patuh pada suaminya dan melunasi utang sebesar 1,2 juta ringgit Malaysia. Jika ia menolak kembali, Manohara akan dicap sebagai "istri durhaka" menurut hukum Islam.
Semua pengalaman pahit ini menjadi alasan utama mengapa Manohara tak mau disebut mantan istri Pangeran Kelantan. Trauma masa lalu membuatnya ingin melepaskan diri dari segala ikatan dengan periode hidup yang penuh penderitaan tersebut.

1 week ago
26
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5474470/original/040608600_1768479040-Screenshot_20260115_165019_us_zoom_videomeetings_ZmConfActivity.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5475348/original/088843400_1768573620-kim_seon_ho.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460853/original/058795000_1767324180-jo_yon_woo.jpeg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5467358/original/078193400_1767875810-1.jpeg)






