Sebanyak 658 Orang di Grobogan Diduga Keracunan MBG

2 hours ago 2

DINAS Kesehatan Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, melaporkan sebanyak 658 orang diduga mengalami keracunan setelah menyantap sajian program makan bergizi gratis (MBG). Ratusan korban berasal dari sejumlah sekolah dan satuan pendidikan di di wilayah Kecamatan Gubug.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Beberapa di antaranya adalah pelajar di SMP, SMK, dan SD negeri di wilayah Ngroto, PAUD Ngroto, SD Glapan, SD Trisari, dan SD Penadaran. Kepala Dinkes Kabupaten Grobogan Djatmiko menuturkan ratusan siswa itu mengalami gejala keracunan setelah mengkonsumsi MBG yang dibagikan pada Jumat, 9 Januari 2025.

Menu yang mereka santap ketika itu terdiri dari nasi kuning dengan lauk telur, abon, dan tempe orek. โ€œTotal korban sementara ada 658 orang, dengan lokasi terdampak meliputi Desa Ngroto, Penadaran, Glapan, Trisari. Dari jumlah tersebut sebagian besar sudah ditangani, baik melalui rawat jalan maupun perawatan lanjutan," ucap dia sebagaimana dilansir Antara pada Minggu, 11 Januari 2025.ย 

Djatmiko menuturkan gejala yang paling banyak dialami para korban adalah mual dan muntah. Menurut dia, para penerima manfaat program prioritas pemerintah itu telah merasakan keluhan tersebut sejak Jumat sore. Namun mereka baru dilarikan ke rumah sakit keesokan harinya.ย 

Hingga Minggu, 11 Januari 2026, tercatat 79 orang masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan. Rinciannya 39 orang dirawat di RS Ki Ageng Getas Pendowo (Gubug), 11 orang di RS Soedjati, sembilan orang di UPTD Puskesmas Penawangan 1, tujuh orang di Puskesmas Kedungjati, serta dua orang di Puskesmas Gubug 1.

"Jumlah ini bersifat dinamis. Ada pasien yang kondisinya membaik dan dipulangkan, namun juga ada potensi penambahan. Data akan kami perbarui setiap 12 jam," kata Djatmiko.

Selain penanganan medis, ia menyampaikan dinas kesehatan juga melakukan inspeksi kesehatan lingkungan, serta mengambil sampel makanan yang akan diperiksa di laboratorium kesehatan. Langkah itu dilakukan guna mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut.

Djatmiko lantas mengingatkan seluruh penyedia layanan makanan, khususnya satuan pemenuhan pelayanan gizi (SPPG) atau dapur MBG terkait untuk mematuhi standar laik higiene dan sanitasi dan ketepatan waktu distribusi makanan.

"Pemberian makanan tidak boleh molor. Jika terlalu lama, lebih dari empat jam, kualitas makanan dapat menurun dan berisiko menimbulkan gangguan kesehatan," ujarnya.

Read Entire Article