Koalisi Sipil Serukan Solidaritas Warga Jaga Warga

2 weeks ago 21

‎RENTETAN peristiwa teror yang menyerang aktivis maupun pemengaruh di media sosial terjadi di penghujung tahun. Koalisi Masyarakat Sipil menyerukan solidaritas antarwarga untuk saling menjaga.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

‎Adapun Koalisi Masyarakat Sipil terdiri dari 91 lembaga dan kolektif, bersama 51 individu mengecam serangan teror terhadap warga yang mengkritik kerja pemerintah dalam menangani bencana ekologis Sumatera. Mereka di antaranya Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Greenpeace, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, SAFEnet, Aliansi Jurnalis Independen Indonesia, Imparsial, Indonesia Corruption Watch, dan sederet akademisi seperti Bivitri Susanti, Julius Ibrani, Feri Amsari, hingga Herlambang P. Wiratraman.

‎Koalisi menilai serangan teror yang menyasar pengkritik itu sebagai upaya membungkam kritik sekaligus partisipasi publik. "Situasi ini mau tidak mau menjadi penanda bagi kita untuk menjaga satu sama lain. Warga jaga warga," kata Koalisi Masyarakat Sipil, dalam pernyataan sikapnya pada Kamis, 1 Januari 2025.

‎Koalisi menyatakan tidak akan mendorong tuntutan ataupun desakan kepada pemerintah dalam peristiwa teror ini. Sebab, koalisi menilai tuntutan kepada pemerintahan Prabowo dan Gibran tidak akan banyak berguna dalam rezim penguasa yang pongah dan lalim.

‎"Kami justru mengajak kepada masyarakat luas untuk terus bersama saling menjaga setiap orang yang hari ini meluapkan ekspresi atas buruknya kualitas penyelenggaraan negara," ucap koalisi.

‎Mereka meyakini solidaritas antarwarga di tengah situasi krisis ini merupakan bukti konkret dan menohok untuk menyampaikan sikap bahwa pemerintah tak lagi bisa diandalkan dalam melindungi hak asasi warga negara. Koalisi menyatakan serangan teror dan ancaman tidak akan membuat masyarakat sipil berhenti untuk terus vokal mengkritik kinerja pemerintah, khususnya dalam menangani bencana Sumatera.

‎"Pemerintah terlalu jumawa dan antikritik sehingga seakan lupa bahwa warga negara adalah bagian paling penting dalam setiap urusan dan kebijakan publik yang diambil oleh penyelenggara negara," ujar koalisi.

‎Koalisi menyatakan tindakan teror terhadap masyarakat sipil ini telah melecehkan semangat gotong royong warga. Padahal, kata koalisi, kritik masyarakat sipil itu sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi warga terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. 

‎Sebelumnya, aktivis dan sejumlah pemengaruh mendapatkan teror di penghujung tahun. Pemusik asal Aceh DJ Donny misalnya mengaku mendapat kiriman bangkai ayam dan surat ancaman. Rumahnya juga dilempari bom molotov oleh orang tak dikenal.

‎Selain Donny, pemengaruh asal Aceh bernama Shery Annavita mengaku dikirimi sekantung telur busuk dan mendapat tindakan vandalisme di mobilnya. Tidak hanya itu, rumah Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Iqbal Damanik dikirimi bangkai ayam beserta pesan bernada ancaman. Teror terhadap Iqbal diduga berkaitan kerja-kerja Iqbal Damanik sebagai pengkampanye Greenpeace, terutama soal kritik terhadap kinerja pemerintah dalam menangani bencana Sumatera

‎Teror juga terjadi di dunia maya. Kreator konten Virdian Aurellio mengalami serangan digital setelah rutin mengunggah kondisi pascabencana di Aceh. Akun WhatsApp adiknya diduga diretas dan digunakan untuk mengirim konten pornografi ke sejumlah grup.

‎Selain itu, ada upaya pengambilalihan akun terhadap anggota keluarga lainnya serta pesan-pesan yang mendiskreditkan Virdian yang dikirim ke kerabatnya dari nomor tak dikenal. Teror serangan digital juga menyasar seorang aktor bernama Yama Carlos. Dia mengaku mendapat teror setelah mengunggah video satir soal situasi bencana Sumatera.

Bentuk intimidasi yang diterima antara lain pesan WhatsApp ancaman, perintah menghapus konten, serta paket cash on delivery (COD) fiktif yang dikirim ke alamatnya.

‎Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai berdalih belum mengetahui ada teror yang menyerang keamanan warga. "Saya sendiri belum tahu. Jadi bagaimana saya percaya mereka diteror? Oleh siapa? Karena apa?" kata dia dalam pesan singkat, Rabu, 31 Desember 2025.‎

‎Hendrik Yaputra berkontribusi dalam penulisan artikel ini

Pilihan editor: Banyak Teror Tunjukan Karakter Otoritarianisme Rezim Prabowo

Read Entire Article