Membedah Tingginya Angka Rabun Jauh Anak di Perkotaan

2 hours ago 2

Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) menemukan, banyak anak di kawasan perkotaan mengalami mata minus atau rabun jauh. Khusus di Jakarta, tercatat 40,5 persen siswa SD mengalami rabun jauh, dan angka ini melonjak tajam pada jenjang SMP hingga menembus lebih dari 50 persen.

"Jadi memang tinggi mata minus pada anak di perkotaan," kata Ketua Departemen Informasi dan Edukasi Masyarakat Perdami, Kianti Raisa Darusman.

Tak hanya di Jakarta, tingginya masalah mata minus pada anak juga terlihat di Surabaya. Begitu juga di sejumlah kota besar di Asia Tenggara, seperti China, Taiwan, dan Singapura.

Bahkan di dunia, data International Agency for the Prevention of Blindness pada 2021 memperlihatkan, sekitar 165 juta anak mengalami rabun jauh atau miopia. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat menjadi 275 juta anak pada 2050.

Kianti menuturkan, lingkungan perkotaan yang padat ikut berperan besar dalam melonjaknya kasus mata minus pada anak. Di kota-kota besar, ruang bermain semakin sempit. Anak-anak jarang memiliki kesempatan berlari di halaman, bermain di lapangan, atau sekadar menikmati cahaya matahari di luar rumah.

Sebaliknya, sebagian besar waktu mereka dihabiskan di dalam ruangan. Belajar, bermain, hingga beristirahat dilakukan di ruang tertutup, dengan aktivitas jarak dekat yang mendominasi. Minimnya ruang terbuka membuat anak-anak tumbuh tanpa cukup paparan aktivitas luar ruang yang penting bagi kesehatan mata.

"Kayak di Surabaya tinggi. Kalau mungkin agak pinggir sedikit, mungkin kayak di Lamongan atau di Jawa Timurnya yang kotanya nggak terlalu besar gitu, angkanya biasanya lebih kecil," ucap Kianti.

Setali tiga uang dengan Kianti, dokter spesialis mata dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Doni Widyandana menyebut, penelitian memang membuktikan banyak anak di kawasan perkotaan mengalami mata minus.

"Kemarin diteliti memang lebih banyak di perkotaan," ucapnya.

Selain kebiasaan menggunakan gadget berlebihan, sistem pendidikan juga memegang peran penting dalam meningkatnya kasus mata minus pada anak-anak di kawasan perkotaan. Sekolah, menurut Doni, seharusnya tidak hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga memberi perhatian serius pada kesehatan para siswanya.

โ€œPendidikan itu idealnya ikut memikirkan kesehatan anak, terutama kesehatan mata,โ€ ujarnya.

Dia menekankan pentingnya aktivitas di luar kelas sebagai bagian dari proses belajar. Anak-anak perlu diberi ruang untuk bergerak, bermain, dan berinteraksi di luar ruangan, bukan hanya duduk lama menatap buku atau layar di dalam kelas. Paparan cahaya alami dan aktivitas jarak jauh diyakini membantu menekan risiko gangguan refraksi sejak dini.

โ€œHarus ada kegiatan luar kelas, supaya mereka tidak terus-menerus beraktivitas di jarak dekat,โ€ kata Dodi.

Read Entire Article