Pemerintah Ungkap 3 Skenario Pembelajaran di Wilayah Bencana

2 weeks ago 27

KEMENTERIAN Pendidikan Dasar dan Menengah menyiapkan tiga skenario pembelajaran untuk diterapkan di wilayah terdampak bencana banjir dan longsor Sumatera. Ketiga skenario ini akan diterapkan pada semester genap tahun ajaran 2025/2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menjelaskan, tiga opsi yang disiapkan akan diterapkan berdasarkan tingkat kerusakan dan sekolah dan kondisi siswa selama masa pemulihan.

Skenario pertama, berlaku selama masa tanggap darurat 0-3 bulan. Kurikulum yang akan diterapkan ialah berbasis kompetensi esensial. "Kurikulum disederhanakan menjadi kompetensi esensial seperti literasi dasar, numerasi dasar, kesehatan dan keselamatan diri, dukungan psikososial, dan informasi mitigasi bencana," ujar Mu'ti dalam konferensi pers di Kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta Timur pada Selasa, 30 Desember 2025. 

Mu'ti menjelaskan kurikulum ini dirancang berbasis pembelajaran darurat yang bersifat adaptif dan sangat fleksibel dilaksanakan pada saat tanggap darurat di sekolah dengan kerusakan ringan. Metode pembelajaran ini juga memiliki asesmen yang sangat sederhana. "Tidak ada asesmen formatif. Fokus pada kehadiran, keamanan, dan kenyamanan murid," kata dia. 

Sementara itu, skenario pembelajaran kedua akan berlaku tiga sampai 12 bulan pascabencana. Skenario ini akan diterapkan untuk sekolah yang mengalami kerusakan berat dan membutuhkan waktu lama untuk pembangunan ulang. Pada skenario kedua ini, jadwal sekolah disesuaikan dengan kondisi siswa yang mungkin masih mengungsi, juga memungkinkan untuk penerapan blended atau hybrid learning.

Mu'ti berujar kurikulum dalam skenario kedua ini akan menekankan pada kurikulum adaptif berbasis krisis. Di mana materi mitigasi bencana akan dimasukan ke dalam mata pelajaran yang relevan. "Kemudian program pemulihan pembelajaran, pembelajaran fleksibel dan diferensiasi," tuturnya. 

Terakhir, untuk skenario ketiga yakni satu sampai tiga tahun, disiapkan bagi siswa yang sekolahnya telah hilang diterjang banjir. Mu'ti menyebut terdapat beberapa sekolah yang memang betul-betul hilang sehingga harus dibangun sekolah baru mulai dari nol. "Sekolah baru yang memang waktunya membutuhkan waktu lebih dari satu tahun," kata dia. 

Dalam kondisi itu, siswa akan belajar dengan integrasi permanen pendidikan kebencanaan, penguatan kualitas pembelajaran, dan pembelajaran inklusif berbasis ketahanan, serta sistem monitoring dan evaluasi pendidikan darurat.

Read Entire Article