Pengukuhan Guru Besar, Zainal Arifin Singgung Demokratisasi

2 hours ago 1

DOSEN Departemen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Zainal Arifin Mochtar resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Hukum Kelembagaan Negara. Pengukuhan itu berlangsung di Balai Senat UGM pada Kamis, 15 Januari 2026.

Zainal Arifin Mochtar atau akrab disapa Uceng menjadi satu dari 559 guru besar aktif di UGM. Dalam acara pengukuhannya tersebut turut dihadiri pejabat negara, tokoh, hingga aktivis pegiat antikorupsi seperti Ketua Mahkamah Konstitusi Suhartoyo, mantan Wakil Presiden Jusuf Kala, mantan Gubernur DKI Anies Baswedan, mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, serta eks Penyidik KPK Novel Baswedan.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Penulis buku Kronik Otoritarianisme Indonesia ini menyampaikan pidato dalam pengukuhan guru besarnya tersebut. Pidatonya ia beri judul "Konservatisme yang Menguat dan Independensi Lembaga Negara yang Melemah: Mencari Relasi dan Mendedah Jalan Perbaikan". 

Topik pidato itu ia ambil dari kegundahannya terhadap nasib lembaga independen di Tanah Air seperti KPU, KPK, Ombudsman, hingga Komnas HAM. Menurut dia, dalam satu dekade terakhir lembaga independen itu mengalami degradasi akibat menguatnya konservatisme dan otoritarianisme di Indonesia.

‎Intervensi dan kepentingan politik, ujar dia, membuat lembaga independen tak selalu mampu berjalan stabil. ‎Bahkan, dia mengatakan tak jarang lembaga independen itu hanya menjadi produk demokratisasi serta arena kontestasi politik. 

"Mereka seperti berdiri di atas garis tipis antara kekuasaan politik dan supremasi hukum," kata Zainal, dipantau daring dari YouTube UGM.

Ia juga berbicara soal demokratisasi. Menurut dia, demokratisasi tak hanya dibangun oleh kekuatan internal dari masyarakat sipil.

Lebih dari itu, dia berujar demokratisasi juga terbentuk berkat legitimasi dan tekanan dari komunitas internasional. "Sayangnya, atau masalahnya, ketika yang begini-begini itu dianggap malah dituduh sebagai antek asing," ucapnya.

Di ujung pidatonya, Zainal mengatakan gelar profesor ini ia dapat dari proses kultural yang panjang. Karena itu, dia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh pihak yang telah membantu dan memberi pengaruh, baik secara langsung maupun tidak.

Rasa terima kasih itu ia persembahkan untuk kedua orang tua, keluarga, saudara, hingga rekan dan guru-gurunya dalam perjalanan akademik maupun kehidupan. Zainal juga menyisipkan terima kasih kepada masyarakat sipil secara luas.

"Kepada seluruh orang yang sedang tertindas, pencari keadilan, pembaharu di tengah kesumpekan, orang yang ditahan dengan sewenang-wenang, teman-teman aktivis yang masih menjadi tersangka, orang-orang yang kesusahan dan orang yang sedang dalam kesempitan," ucap Zainal.

Read Entire Article