SATUAN Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, menyatakan pemulihan di wilayah terdampak masih berproses. Pernyataan itu disampaikan merepons kabar yang beredar di media sosial ihwal belum adanya perbaikan signifikan di Aceh seusai disapu banjir pada November lalu.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Dalam laporan relawan yang diunggah di akun Instagram @sahabatalmiraIndonesia pada 18 Januari 2026, sejumlah akses jalan di Aceh masih terputus. Warga masih harus menyeberang sungai menggunakan tali gantung. Beberapa rumah pun tampak masih tertimbun tanah bekas longsor.
Wakil Kepala Perencanaan dan Pengendalian Posko Nasional Satgas Bencana Brigadir Jenderal TNI Dody M.Taufik mengatakan pemulihan akses jalan menjadi salah satu program prioritas dalam rencana kerja satgas bencana. Satu bulan ini, kata dia, menjadi windows time atau periode terbatas bagi satgas untuk memulihkan akses jalan.
“Jadi ada windows time yang bisa digunakan semaksimal mungkin untuk dilakukan percepatan, baik untuk akses jalan dan daerah terisolasi agar segera bisa dibuka,” ucap dia dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, pada Selasa, 20 Januari 2026.
Dody menuturkan satgas bencana bahkan telah mengerahkan ribuan pasukan untuk pemulihan jalan tersebut. Dari TNI saja, kata dia, terdapat sekitar 27 ribu prajurit yang diterjunkan untuk membantu pemulihan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Selain itu, Dody menyebutkan TNI juga mengalihkan kegiatan latihan integrasi taruna wreda nusantara atau latsarda ke wilayah bencana. Lastarda ialah kegiatan tahunan integrasi para taruna tingkat akhir dari akademi TNI, Polri, Institut Pemerintahan Dalam Negeri, Universitas Pertahanan, dan berbagai sekolah kedinasan lainnya. “Jadi harapannya pada saat ramadan itu sudah bisa selesai (pemulihan),” kata dia.
Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah, Aceh melaporkan sebanyak 24 desa di Kabupaten Aceh Tengah yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor masih terisolasi hingga kini. Desa-desa tersebar di Kecamatan Bintang, Ketol, Silih Nara, Rusip Antara, dan Linge.
"Total penduduk yang terdampak mencapai 10.914 jiwa,” kata juru bicara Posko Penanganan Bencana Banjir dan Longsor Aceh, Murthalamuddin, pada Kamis, 15 Januari 2026.
Ia merinci, satu kampung di Kecamatan Bintang yang masih terisolasi adalah Desa Serule. Jumlah penduduk yang terdampak bencana di desa ini sebanyak 582 jiwa. Murthalamuddin mengatakan akses menuju desa tersebut belum dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat akibat timbunan longsor di badan jalan.
Hingga 19 Januari 2026, pemerintah Aceh mencatat sebanyak 91.962 warga masih tertahan di pengungsian. Jumlah tersebut tersebar di 988 titik karantina di berbagai kabupaten dan kota.





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460853/original/058795000_1767324180-jo_yon_woo.jpeg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5467358/original/078193400_1767875810-1.jpeg)












