BNPB: Sampah yang Menutup Saluran Air Akibatkan Banjir Demak Sulit Surut

2 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto bergerak cepat dalam menangani sampah yang menyumbat got saluran pembuangan air karena menjadi salah satu penyebab bencana banjir di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, yang tidak cepat menyurut.

"Permasalahan tersumbatnya got saluran air ini yang menjadi prioritas kita, jangka pendeknya menggunakan mesin penyedot air agar ke luar," ujar Suharyanto, dikutip dari Antara, Senin (19/1/2026).

Saat tinjauan dilakukan secara langsung, saluran pembuangan masih tersumbat. Sehingga untuk dua di kecamatan Karanganyat, Kabuapten Demak belum juga sepenuhnya surut.

Lokasi sumbatan air terebut, yaitu di got atau gorong-gorong yang melintas di bawah Jalur Pantura Demak-Semarang di Desa Gajah, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak, sebagai saluran pembuangan atau Afour C71 atau juga dikenal masyarakat Saluran Sipon dari kawasan Kecamatan Karanganyar.

Suharyanto mengaku sudah memerintahkan kepala pelaksana (Kalaksa) BPBD untuk segera mengerahkan alat berat untuk mengeruk sampah-sampah yang menyebabkan saluran tersumbat.

"Got jalur airnya memang tidak lancar, tertutup sampah dan mungkin juga sudah tidak mampu menampung debit air," ucap dia.

Banjir yang masih menggenang di Kecamatan Karanganyar, juga merendam lahan persawahan, sampai dalam empat hari lagi tidak ditaangani, maka petani setempat bisa gagal panen.

"Banjir di Kbupaten Demak pada tahun ini berbeda dengan kejadian yang terjadi di dua tahun lalu, yaitu pada tahun 2023-2024, yang faktornya disebabkan oleh jebolnya tanggul Sungai Wulan," terang Suharyanto.

Normalisasi Sungai Wulan Berhasil, Fokus Kini Beralih ke Pelebaran Saluran Sipon

Keberhasilan penanganan banjir di titik-titik krusial sebelumnya menjadi catatan positif bagi pemerintah. Kepala BNPB Suharyanto mengungkapkan rasa syukurnya atas kinerja Kementerian Pekerjaan Umum yang efektif. 

"Saat itu banjirnya cukup parah. Sekarang sudah dilaksanakan normalisasi oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Alhamdulillah di tahun 2025–2026 ini tidak banjir di lokasi yang sama," ucap dia menegaskan dampak positif dari perbaikan infrastruktur tanggul yang telah rampung.

Sementara itu, Wakil Bupati Demak Muhammad Badruddin mengaku menjadi salah satu penyebab banjir di Desa Kedung Banteng dan Wonorejo, Kecamatan Karanganyar.

Karena saluran pembuangan Sungai Sipon yang gorong-gorongnya tidak mampu untuk menampung debit air, terutama juga pada jalur yang melintas dibawah Jalur Pantura Demak-Semarang.

"Ukurannya kurang lebar dan tersumbat sampah. Kami sudah menyampaikan kepada Kepala BNPB sehingga ke depan ada perhatian agar banjir tidak terulang di tahun-tahun berikutnya," kata Badruddin.

Upaya Penyelamatan Panen Raya dan Seruan Peduli Lingkungan

Di tengah kondisi genangan yang masih melanda, Badruddin menaruh harapan besar agar banjir dapat segera teratasi dalam waktu dekat. 

Prioritas utama saat ini adalah menyelamatkan sektor pertanian, mengingat para petani di wilayah terdampak sedang bersiap menghadapi masa panen. 

Pemerintah daerah bersama warga terus bahu-membahu melakukan langkah antisipasi di lapangan, meskipun tantangan curah hujan yang tinggi masih membayangi. Sinergi ini diharapkan mampu meminimalisir kerugian materiil yang lebih besar bagi masyarakat.

"Insya Allah dalam empat hari sampai satu minggu ini bisa diantisipasi dengan baik dan semoga panen masyarakat Karanganyar, terutama warga Desa Kedung Banteng dan Wonorejo bisa berlangsung lebih baik," terang Badruddin.

Dia juga mengajak masyarakat untuk peduli terhadap kebersihan lingkungan, khususnya dibagian sungai dan saluran air, agar tidak terjadi sumbatan akibat sampah. 

"Sungai dan saluran air harus dijaga fungsinya sebagai drainase, bukan dijadikan tempat pembuangan limbah," ucap dia.

"Partisipasi aktif warga untuk tidak membuang sampah sembarangan di badan air menjadi kunci vital agar aliran tidak tersumbat, sehingga potensi banjir dapat ditekan dan tidak terus berulang menjadi siklus tahunan yang merugikan," tutup Badruddin.

Read Entire Article